Pages

Labels

Jumat, 16 Maret 2012

Resensi Film Lucunya Negeri Ini


Sebagian orang menganggap pendidikan itu penting dalam mencari pekerjaan, sedangkan pekerjaan adalah sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Memang tidak dapat dipungkiri, jika melamar pekerjaan, hal pertama yang dilihat adalah status pendidikan seseorang. Semakin tinggi status pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula kesempatannya untuk mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, sebagian orang menganggap bahwa keterampilan dan kemampuan lebih penting daripada pendidikan. Pendapat itu juga tidak sepenuhnya salah, karena pada kenyataannya, masih banyak orang berpendidikan tinggi –sarjana– belum sukses dalam dunia kerja, bahkan masih banyak yang menganggur. Sedangkan seseorang yang tidak berpendidikan tinggi, bisa mendapatkan kerja, bahkan menciptakan lapangan kerja baru.

Perbedaan pendapat akan penting tidaknya pendidikan inilah yang menjadi salah satu topik dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini, selain topik ekonomi, sosial, kritik pemerintah, dan moral bangsa. Yang paling menonjol memperlihatkan perbedaan pendapat itu digambarkan melalui dua tokoh, H. Makbul dan H. Sarbini, yang di mana-mana selalu memperdebatkan penting tidaknya pendidikan.


Perdebatan antara H. Makbul dan H. Sarbini terjadi jika mereka bertemu. H. Makbul merasa pendidikan itu penting untuk kesuksesan seseorang. Akan tetapi H. Sarbini menganggap bahwa pendidikan itu tak penting dalam dunia kerja. Saking seringnya berdebat, H. Sarbini akhirnya berkata :

“Bul, pendidikan itu penting kalau ada koneksi! Kalau nggak, percuma! Asalamualaikum!”

Pendapat H. Sarbini ini tidak bisa disalahkan juga mengingat jaman sekarang banyak orang yang mengandalkan kenalan ‘orang dalam’ agar mudah mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi pendapat H. Makbul juga tak salah, jika mengingat ada sebagian orang berpendidikan yang berhasil mendapatkan kerja sesuai bidangnya, meski hanya beberapa.

Berikut adegan-adegan* yang menganggap pendidikan itu tak penting :
1. Pendapat bahwa pendidikan itu tak penting didukung dengan adanya adegan ketika Muluk, seorang sarjana menejemen, melamar kerja disuatu kantor yang ternyata bangkrut. Apalagi ditambah dengan dialog yang dilontarkan oleh si bos yang menganggap remeh sarjana menejemen.

Bos : “Ilmu apa yang kamu punya?”
Muluk : “Ilmu menejemen, pak!”
Bos : “I terus terang sama you, ya? Segala macam ilmu udah I terapin buat nyelametin ini perusahaan. Termasuk ilmu you! You liat buku-buku tebel ini? Ini buku menejemen barat yang paling mutakhir dari Amerika! Ini buku menejemen ala Man Tse Tung dari Cina! Ini buku menejemen dari Jepang! Ini buku menejemen gaya Arab! Nggak ada yang berhasil nyelametin perusahaan I, nggak ada! Cuma menejemen jin doang yang belum I terapin, bukunya nggak ada!”

Dari dialog tersebut, dapat diketahui bahwa si Bos sudah tidak percaya lagi dengan ilmu ekonomi menejemen, yang dalam pandangan orang awam, adalah ilmu yang dapat menjamin kesuksesan hidup seseorang dalam dunia kerja.
Ilmu menejemen terkesan semakin tidak penting, ketika bos menunjukkan buku-buku tebal berbagai ilmu menejemen, dari Amerika, Cina, Arab, dan Jepang, untuk mengolah perusahaannya. Tapi nyatanya, perusahaannya tidak berhasil berkembang, malah bangkrut. Karena itulah, ia tak percaya lagi dengan ilmu menejemen.

2. Haji Sarbini, yang menganggap pendidikan itu tidak penting, selalu membeberkan kepada Muluk tentang keberhasilan abang Rahma, yang sudah memiliki kios dan sudah berangkat haji. Haji Sarbini juga memaparkan tentang adik Rahma yang hanya lulusan sanawiyah, sudah memiliki usaha sablon sendiri, dan akan naik haji.

Dalam adegan tersebut, Sarbini secara tidak langsung membuktikan bahwa pendidikan itu tidak penting dalam dunia pekerjaan. Tanpa pendidikan yang tinggi, seperti Mulukpun, abang dan adik Rahma berhasil mendapatkan kerja, bahkan membuka lapangan pekerjaan baru bagi para pengangguran.

3. Pendidikan juga terlihat tidak penting ketika Muluk mendatangi kelompok pemain gaplek di pos Ronda.
Muluk : “Sul, Lo kan sarjana pendidikan, harusya lo ngajar!”
Samsul : “Nah, mestinya lo jadi direktur, kan lo sarjana manajemen!”
Dialog tersebut merupakan sindiran bagi para sarjana yang belum memiliki pekerjaan selepas lulus kuliah. Dari adegan tersebut, diketahui bahwa sarjana pendidikan yang seharusnya menjadi pengajar, malah bermain gaplek karena susahnya mencari lapangan pekerjaan.
Dalam film ini juga dijelaskan mengapa Samsul belum bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Terdapat dalam adegan dan dialog berikut :
Samsul : “Lo nyuruh gue jelasin pentingnya pendidikan, sedangkan gue sendiri gak yakin kalo pendidikan itu penting!”
Muluk : “Sejak kapan?”
Samsul : “Sejak gue lulus kuliah. Gue pengen cari duit, gue ngelamar jadi guru, ee...malah gue dimintain duit duluan. Percuma kan pendidikan gue!”
Dari dialog tersebut diketahui bahwa lulusan sarjana pendidikan tidak menjamin akan diterima sebagai pendidik dengan jalan ‘mulus’ tanpa ada hambatan –uang–. Karena itulah Samsul berpikir bahwa ilmu pendidikan yang telah menjadikannya sarjana pendidikan itu tidak penting di dunia kerja yang sesuai dengan bidangnya –guru–. Kalaupun ingin menjadi guru, ternyata harus mengeluarkan biaya, sebelum diterima. Itu membuktikan bahwa pendidikan tidak murni dibutuhkan dalam mencari pekerjaan.

Adegan-adegan yang mengatakan bahwa pendidikan itu penting :

1. Ke-enam belas pencopet tersebut sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan, sehingga Samsul harus dengan sabar mengajari mereka membaca, menulis, berhitung, dan pancasila dari awal.
Mulanya para pencopet menolak belajar, terutama Glen, namun Jarot menyuruh anak buahnya (pencopet) untuk mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Muluk, Samsul, dan Pipit, agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Ketika Glen dikejar massa, namun malah berlari ke pos polisi, karena Glen tidak bisa membaca papan yang bertuliskan POLISI.

2. Pendidikan terlihat penting ketika adegan para pencopet, Muluk, Pipit dan Samsul, melihat gedung DPR, tempat wakil rakyat yang terhormat dan berpendidikan berada*
Samsul : “Nah, itu gedung DPR, tempat wakil rakyat.”
Muluk : “Wakil rakyat yang ditugaskan untuk memperjuangkan nasib kita.”
Gembul : “Wakil copet, ada gak bang?”
Kampret : “Didalem boleh nyopet ngga bang?”
Muluk : “Ini adalah tempatnya orang terhormat berpendidikan.”
Ribut : “Adalah kita boleh disitu dong? Kita kan sudah sekolah?”
Glen : “Ngapain lo disitu, gak bisa nyopet!”
Komet : “Tapi korupsi boleh, kan?”
Dari dialog tersebut dapat ditangkap bahwa para pencopet cilik mau belajar karena ingin menjadi manusia yang berpendidikan dan bisa mencopet yang lebih besar daripada sekarang. Pernyataan bahwa pencopet cilik tetap ingin mencopet meskipun di gedung DPR dipertegas dengan dialog Komet yang terakhir.

3. Selain pada adegan melihat gedung DPR, keinginan pencopet menjadi orang yang berpendidikan yang tetap bisa mencopet terlihat pada adegan ketika Samsul menjelaskan pentingnya pendidikan. Kemudian tiba-tiba seorang pencopet bertanya pada Samsul, “Orang berpendidikan, cara nyopetnya gimana?”
Samsul : “Yaa...mereka nggak nyopet. Kerja! Jadi pegawai, jadi dokter...”
Muluk : “Stop! Kita harus jujur. Orang berpendidikan ada juga yang nyopet, tapi mereka nyopet nggak di dompet yang isinya terbatas. Mereka mencopet dari lemari, brankas, dari bank.”
Pencopet : “Saya mau bang!”
Samsul : “Orang berpendidikan yang mencopet bukan disebut pencopet, tapi disebut koruptor.”
Gembil : “Ya, bang! Kita pengen jadi koruptor! Hidup koruptor!”
Pencopet : “HIDUUUP...!”
Penjelasan Samsul membuat para pencopet berkeinginan menjadi koruptor, orang berpendidikan yang masih bisa mencopet, bahkan lebih besar. Sehingga dalam hal ini, mereka menganggap bahwa pendidikan itu penting juga untuk mencopet yang lebih banyak.
Sehingga kunci dari semua pendapat yang menyatakan penting tidaknya pendidikan itu terdapat dalam kalimat Muluk sebagai berikut :
“Nah, itu, itu hasil pendidikan. Kalau lo nggak berpendidikan, lo nggak akan tahu kalo pendidikan itu nggak penting! Makannya pendidikan itu penting!”
Sehingga dari pernyataan Muluk tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu penting!

copas from :http://novilycious.blogspot.com/2011/10/simbolisasi-pendidikan-indonesia-dalam.html

0 komentar:

Poskan Komentar